Review materi Komunikasi Lintas Budaya

 Nama: Mukhammad Sulhtoni Firdaus

Kelas: E1

Nim: B05219030

 

Materi 1 

 

Orientasi Komunikasi Lintas Budaya

 

Komunikasi lintas budaya merupakan salah satu bidang kajian Ilmu Komunikasi yang lebih menekankan pada perbandingan pola-pola komunikasi antar pribadi diantara peserta komunikasi yang berbeda kebudayaan. Pada awalnya, studi lintas budaya berasal dari perspektif antropologi sosial dan budaya sehingga kajiannya lebih bersifat depth description, yakni penggambaran yang mendalam tentang perilaku komunikasi berdasarkan budaya tertentu.

 

Banyak pembahasan komunikasi lintas budaya yang berkisar pada perbandingan perilaku komunikasi antarbudaya dengan menunjukkan perbedaan dan persamaan sebagai berikut:

 

·     Persepsi, yaitu sifat dasar persepsi dan pengalaman persepsi, peranan lingkungan sosial dan fisik terhadap pembentukan persepsi 

·     Kognisi, yang terdiri dari unsur-unsur khusus kebudayaan, proses berpikir, bahasa dan cara berpikir.

·     Sosialisasi, berhubungan dengan masalah sosialisasi universal dan relativitas, tujuan-tujuan institusionalisasi; dan

·     Kepribadian, misalnya tipe-tipe budaya pribadi yang mempengaruhi etos, dan tipologi karakter atau watak bangsa.

Sumber: 

http://jendelakuliah.blogspot.com/2013/10/definisi-dan-ruang-lingkup-komunikasi.html

Materi 2

Ruang Lingkup & Dimensi Komunikasi Lintas Budaya

 Penelitian komunikasi lintas budaya memfokuskan perhatian pada bagaimana budaya-budaya yang berbeda berinteraksi dengan proses komunikasi; bagaimana komponen-komponen komunikasi berinteraksi dengan komponen-komponen budaya. Komponen-komponen Budaya Disiplin yang menelaah komponen-komponen budaya adalah antropologi budaya, sehingga penelitian komunikasi lintas budaya harus mengacu pada disiplin tersebut dalam mengidentifikasi dan mendeskripsikan komponen budaya. Asante mengemukakan enam komponen budaya yang penting: 

·      Komponen Pandangan Dunia. Setiap budaya punya caranya yang khas dalam memandang dunia-dalam memahami, menafsirkan dan menilai dunia. Ketika komunikasi lintas budaya terjadi, pandangan dunia akan mempengaruhi proses penyandian dan pengalihasandian. Pandangan dunia juga dapat dipakai untuk memdiagnosis “noise” yang terjadi dan menunjukkan “terapi”-nya. 

·      Komponen Kepercayaan (beliefs). Salah satu unsur kepercayaan yang sangat penting dalam komunikasi lintas kultural adalah citra (image) kita dengan komunikasi dari budaya lain. Citra mempengaruhi perilaku kita dalam hubungannya dengan orang yang citranya kita miliki. Citra menentukan desain pesan komunikasi kita. 

·      Komponen nilai. Sistem nilai masyarakat dalam budaya tertentu mempengaruhi cara berpikir anggota-anggotanya. Spranger mengemukakan kategori nilai yang terkenal antara lain: nilai ilmiah, nilai religius, nilai ekonomis, nilai estetis, nilai politis dan nilai sosial. 

·      Nilai sejarah Lewat sejarah yang mereka ketahui, anggota masyarakat saling bertukar pesan dalam komunikasi lintas budaya.

·      Komponen Mitologi. Mitologi suatu kelompok budaya memberikan pada kelompok pemahaman hubungan-hubungan, yakni, hubungan orang dengan orang, orang dengan kelompok luar, dan orang dengan kekuatan alami.

·       Komponen otoritas status. Setiap budaya mempunyai caranya sendiri dalam mendiskusikan otoritas status. Bersamaan dengan otoritas status ada permainan peran yang ditentukan secara normatif. 

Dimensi-dimensi Komunikasi Antar Budaya

Ada 3 (tiga) dimensi yang perlu diperhatikan untuk sampai pada pemahaman tentang kebudayaan dalam konteks KAB :

Pertama, tingkat masyarakat kelompok budaya dari para partisipan;

Kedua, konteks sosial tempat terjadinya KAB;

Ketiga, saluran yang dilalui oleh pesan-pesan KAB ( baik yang bersifat verbal maupun nonverbal)

Dimensi pertama menunjukkan bahwa istilah kebudayaan telah digunakan untuk merujuk pada macam-macam tingkat lingkupan dan kompleksitas dari organisasi sosial.Umumnya istilah kebudayaan mencakup beberapa pengertian sebagai berikut :

  1. Kawasan-kawasan dunia, misal : budaya timur, budaya barat
  2. Subkawasan-kawasan di dunia, misalnya: budaya Amerika Utara, budaya Asia Tenggara.
  3. Nasonal/negara,misalnya: budaya Indonesia,budaya Perancis, budaya Jepang.
  4. Kelompok-kelompok etnik-ras dalam negara seperti ; budaya orang Amerika Hitam,Budaya Amerika Asia, Budaya Cina-Indonesia.
  5. Macam-macam subkelompok sosiologis berdasarkan kategorisasi jenis kelamin, kelas sosial, coundercuklture  (budaya Hippis, budaya orang di penjara,budaya gelandangan, budaya kemiskinan)

Contoh kajian KAB dimensi pertama misalnya,komunikasi antarndividu dengan kebudayaan nasional yang berbeda (wirausaha Jepang dengan wirausaha Amerika atau Indonesia) atau antar individu dengan kebudayaan ras-etnik yang berbeda (seperti antar pelajar penduduk asli dengan guru pendatang.Bahkan ada yang mempersempit lagi pengertian pada “kebudayaan individual” karena setiap orang mewujudkan latar belakang yang unik.

Dimensi kedua menyangkut Konteks Sosial. Misal, konteks sosial KAB pada: organisasi, bisnis, penddikan, akulturasi imigran, politik,   penyesuaian pelancong/pendatang sementara, perkembangan alih teknologi/pembangunan/difusi inovasi, konsultasi terapis. Dalam dimensi ini bisa saja muncul variasi kontekstual, misalnya, komunikasi antarorang Indonesia dengan Jepang dalam suatu transaksi dagang akan berbeda dengan komunikasi antarkeduanya dalam berperan sebagai dua orang mahasiswa dari suatu universitas. Dengan demikian konteks sosial khusus tempat terjadinya KAB memberikan pada para partisipan hubungan-hubungan antarperan, ekspektasi-ekspektasi, norma-norma, dan aturan-aturan tingkah laku yang khusus.

Dimensi ketiga, berkaitan dengan saluran komunikasi. Secara garis besar, saluran dapat dibagi atas :

  • Antarpribadi/orang
  • Media massa

Bersama-sama dengan dua dimensi sebelumnya, saluran komunikasi juga memengaruhi proses dan hasil keseluruhan dari KAB. Misalnya,orang Indonesia menonton melalui TV keadaan kehidupan di Afrika akan memiliki pengalaman yang berbeda dengan keadaan apabila ia sendiri berada di sana dan melihat dengan mata kepala sendiri. Umumnya, pengalaman komunikasi  antarpribadi dianggap memberikan dampak yang lebih mendalam.Komunikasi melalui media kurang dalam feedback langsung antarpartisan dan oleh karena itu, pada pokoknya bersifat satu arah.Sebaliknya, saluran antarpribadi tidak dapat menyaingi kekuatan saluran media dalam mencapai jumlah besar manusia sekaligus bersifat antarbudaya bila partisipan-partisipannya berbeda latar belakang budayanya.

Ketiga dimensi di atas dapat digunakan secara terpisah ataupun bersamaan,dalam mengklasifikasikan fenomena komunikasi antarbudaya khusus.Misalnya: kita dapat menggambarkan komunikasi antara Presiden Indonesia dengan Dubes baru dari Nigeria sebagai komunikasi internasional, antarpribadi dalam konteks politik; komunikasi antara pengacara AS dari keturunan Cina dengan kliennya orang AS keturunan Puerto Rico sebagai komunikasi antarras/antaretnik dalam konteks bisnis;komunikasi imigran dari Asia di Australia sebagai komunikasi antaretnik,antarpribadi dan massa dalam konteks akulturasi.


Sumber:

http://jendelakuliah.blogspot.com/2013/10/definisi-dan-ruang-lingkup-komunikasi.html

Mulyana, Dedy dan Rakhmat, Jalaluddin (Eds.) KOMUNIKASI ANTAR BUDAYA:Panduan Berkomunikasi dengan Orang-orang Berbeda BudayaPT Remaja Rosdakarya, Bandung, 2001

 

 

 

 

 

 

Materi 3

 

Komunikasi Internasional

 

Pengertian Komunikasi Internasional

Secara keilmuan, komunikasi internasional lebih dipahami dan diartikan sebagai kajian dalam ranah internasional mengenai data dan informasi yang masuk dan keluar melalui batas-batas negara. Selain itu, komunikasi internasional juga banyak dikaitkan dengan konsep politik dan hubungan satu negara dengan negara lain atau beberapa negara lain. Mengacu pada wikipedia, komunikasi internasional merupakan komunikasi yang dilakukan oleh pelaku komunikasi sebagai wakil dari negaranya dalam menyampaikan pesan dan informasi yang tentunya berkaitan dengan kepentingan negaranya kepada wakil dari negara lain.

Sebagai komunikasi yang memiliki ranah berbeda dari jenis komunikasi lainnya. komunikasi internasional memiliki beberapa kriteria yang menjadi ciri khasnya, yaitu:

  1. Isu yang ada dalam komunikasi internasional memiliki jenis isu yang bersifat global, mencakup isu-isu yang menjadi fokus banyak negara. 
  2.  Para pelaku komunikasi yang ada di dalamnya, yaitu komunikator dan komunikan atau pemberi dan penerima pesan, memiliki kebangsaan yang berbeda satu sama lain. Atau dengan kata lain, para pelaku komunikasi internasional berasal dari negara yang berbeda-beda. 
  3. Sarana yang menjadi saluran media yang digunakan dalam proses komunikasi internasional pun bersifat internasional dan berada dalam ranah global

Perspektif Komunikasi Internasional

 Perspektif komunikasi internasional dapat dikatakan juga sebagai pandangan dalam memahami lebih mendalam mengenai kajian tersebut secara keilmuan. Berikut adalah beberapa perspektif komunikasi internasional yang perlu untuk diketahui:

·       Perspektif Diplomatik

Perspektif komunikasi internasional yang pertama adalah perspektif diplomatik, yang sesuai dengan namanya berarti diplomasi yang dilakukan antar negara. Diplomasi memang bukan hal yang baru lagi dalam hubungan internasinoal atau antar negara, karena banyaknya kebutuhan kerjasama yang melibatkan satu negara dengan satu atau beberapa negara lain. Perspektif diplomatik biasanya dilakukan dalam kelompok yang berukuran kecil dan berfokus pada tingkat interpersonal, misalnya oleh masing-masing perwakilan pejabat negara yang membahas kerjasama atau menyelesaikan konflik yang terjadi.

·      Perspektif Jurnalistik

Perspektif yang selanjutnya adalah perspektif jurnalistik, yang sesuai dengan namanya maka perspektif ini dilaksanakan melalui saluran atau channel media massa. Seperti yang telah kita ketahui bahwa arus informasi memang didominasi dan dikendalikan oleh negara-negara maju, sehingga perspektif jurnalistik yang diterapkan pun banyak dipengaruhi oleh pandangan negara maju. Bisa dikatakan bahwa negara-negara maju memiliki peran sebagai gatekeeper atau pengontrol arus informasi yang disampaikan pada jangkauan global

·      Perspektif Propagandistik

Perspektif komunikasi internasional yang terakhir adalah perspektif propogandistik yang memiliiki sedikit kesamaan dengan perspektif jurnalistik, yaitu menggunakan kekuatan media massa. Namun perbedaannya adalah perspektif propogandistik lebih mengacu kepada penyebaran dan penanaman ide serta gagasan milik satu negara kepada masyarakat di negara lain untuk dapat mempengaruhi pemikiran, perasaan, dan tindakan mereka. Propoganda ini dibuat melalui gagasan yang diberikan, peristiwa yang terjadi, atau kebijakan suatu negara yang kemudian membuat masyarakat negara lain memberikan dukungan mereka atau bahkan mengubah sikap serta cara pandangnya

Sumber:

  https://pakarkomunikasi.com/komunikasi-internasional

Materi 4

Proses, Teori & Model komunikasi Lintas Budaya.

 

 

Proses

 Komunikasi tidak bisa di pandang sekedar sebagai sebuah kegiatan yang menghubungkan manusia saja dalam keadaan pasif,ttapi komunikasi harus di pandang sebagai proses yang menghubungkan manusia melalui sekumpulan tindakan yang terus menerus di perbeharui.Komunikasi itu dinamik,selalu berlangsung ataupun sering berubah-ubah.Itulah salah satu karakteristik komunikasi. Pada hakikatnya proses komunikasi antar budaya sama dengan proses komunikasi lain yakni suatu proses yang interaktif dan transaksional serta dinamis.Salah satu contoh misalnya: komunikasi antar budaya yang interaktif adalah komunikasi yang di lakukan oleh komunikator dengan komunikan dalam dua arah atau timbal balik.

 Teori Komunikasi Lintas Budaya Berikut adalah beberapa teori komunikasi lintas budaya, yaitu : 

A.Face Negotiation Theory Untuk menyampaikan makna tertentu, manusia menggunakan pesan verbal dan non verbal. Salah satu pesan non verbal yang digunakan adalah pesan fasial atau air muka. 

B. Expectancy Violations Theory Expectancy Violations Theory mencoba menguraikan perilaku manusia yang tidak terduga saat mereka berinteraksi. Teori ini menitikberatkan pada proses komunikasi yang dipengaruhi oleh norma serta budaya yang dianut dan dijadikan sebagai patokan. Adanya pelanggaran pada norma dan budaya yang dianut dapat menimbulkan persepsi positif atau negatif. Sehingga individu akan bersikap hati-hati terhadap individu yang lain. 

C. Teori Akomodasi KomunikasiTeori akomodasi komunikasi menitikberatkan pada strategi individu untuk mengurangi atau menambah jarak komunikatif yang bergantung pada norma dan budaya yang dianut. Teori akomodasi komunikasi menguraikan kecenderungan manusia untuk menyesuaikan perilaku saat mereka berinteraksi. 

D. Conversational constraints theory Teori yang dikembangkan oleh Min-Sun Kim ini mencoba untuk menjelaskan perbedaan strategi percakapan yang dimiliki oleh masing-masing budaya dan dampak yang ditimbulkan oleh perbedaan tersebut. Teori ini menggunakan pendekatan ilmu komunikasi sosial yang memandang bahwa budaya mempengaruhi komunikasi. 

E. Anxiety/Uncertainty Management Theory Teori yang dikemukakan oleh William Gundykunst mengasumsikan bahwa individu akan merasa menjadi orang asing diantara pertemuan antar budaya yang menimbulkan rasa cemas, ketidakpastian dan ketidaknyaman

 

 

 Model Komunikasi Antar Budaya

 1.Model Komunikasi Antarbudaya Menurut Porter & Larry A. Samovar Budaya mewarnai perilaku komunikasi individu, budaya yang tak sama akan menentukan corak serta sifat komunikasi yang tidak sama pula. Ketika seseorang melakukan komunikasi dengan orang lain yang mempunyai kebudayaan berbeda boleh jadi arti pesan yang dikirimkan pemberi pesan dapat mengalami pembiasan setelah mengalami proses persepsi budaya oleh orang-orang di suatu masyarakat yang berbeda. 

2.Model Komunikasi Antar Budaya Menurut William B. Gudykunst dan Young Yun Kim Model komunikasi antar budaya ini adalah komunikasi yang terjadi di antara individu-individu yang datang dari budaya yang berbeda atau asing. Pada model ini, setiap orang berperan sebagai pengirim sekaligus juga penerima pesan. Jadi di sini terjadi pertukaran pesan timbal balik antara pengirim pesan dan si penerima yang sama-sama orang asing. Terjadi penerjemahan kode serta penerjemahan balik kode pesan. 

3.Model Dimensi Waktu Dalam Komunikasi Antarbudaya Menurut Tom Bruneau Berdasarkan model ini waktu menjadi peubah utama yang melandasi seluruh suasana komunikasi. Waktu mempengaruhi interaksi, pola hidup interpersonal, dan pola hidup masyarakat itu dipengaruhi oleh budayanya. Dimensi waktu terdiri atas perbedaan perilaku berdasarkan konsepsi waktu dan masa spesifik dari tiap kelompok budaya yang mensimpulkan perilaku temporal. Ada 2 macam konsep waktu, yaitu: 

1.Waktu Polikronik Konsep waktu polikronik menyatakan bahwa waktu adalah suatu siklus yang periodik. Individu yang menerima konsep ini berasumsi tindakan manusia pada masa sekarang masih dapat diperbaiki pada waktu atau kesempatan lain. Contohnya sewaktu seseorang malas belajar sehingga memperoleh nilai jelek, siswa polikronik berpendapat akan dapat memperbaikinya pada kesempatan berikutnya.

 2.Waktu Monokronik Konsep waktu monokronik menyatakan bahwa waktu bergerak linear dari masa lalu ke waktu berikutnya. Individu yang menerima konsep ini berorintasi pada ketepatan waktu itu sendiri dan beranggapan bahwa waktu sangat berarti dan menentukan bagi perjalanan kehidupannya.

Sumber: https://www.kompasiana.com/putriunifa/572476f307b0bdbc076e5545/proses-komunikasi-antarbudaya

 https://pakarkomunikasi.com/komunikasi-lintas-budaya

https://www.kompasiana.com/lilinurhalimah/5f320276097f360eb63a0f32/model-komunikasi-antar-budaya?page=3

Materi 5

HAKIKAT KOMUNIKASI ANTAR BUDAYA

 Hakikat komunikasi berarti inti atau substansi dair komunikasi itu. Setelah uraian pengertian dalam sekilas tujuan komunikasi di atas, maka setidaknya kita sudah mendekati hakikat komunikasi, sehingga dapat diilustrasikan sebagai berikut; Minimal ada empat hal yang menjadi hakikat (substansi) komunikasi Perkenalan Sebagai makhluk homo sosial (makhluk sosial) yang menjadi dasar untuk brehubungan dengan siswanya adalah saling kenal mengenal, mulai dari nama, asal, pekerjaan, sampai pada ciri-ciri khusus orang itu, bahkan sampai pada latarbelakang maksud dan tujuan perkenalan itu. (ingat), ketika terjadi dialog perkenalan pertama antara Tuhan dengan sang bayi dalam rahim ibu perkenalan itu sifatnya dua arah. Keterbukaan Pada mulanya keterbukaan itu ada di sengaja dan ada yang tidak disengaja. Keterbukaan yang tidak disengaja tentunya sifatnya konsumtif, sedangkan keterbukaan yang disengaja sifatnya sudah produktif dan tendensif. Keterbukaan bagi seseorang menunjukkan adanya peluang untuk maju dan berkembang. Sebaliknya ketertutupan seseorang menunjukkan adanya keterkungkungan atau semakin mereka terbelakang alias susah maju. Seluru kemajuan itu diperoleh dari adanya keterbukaan. Kini semakin disadari tentang hasil kemajuan sebagai produk keterbukaan seperti yang berkaitan dengan seni, pendidikan, pertukangan, pertanian, nelayan, pelayanan hukum, model perpolitikan, dan lain-lain semua ini dikemas sebagai budaya. Pergaulan Pergaulan atau hidup berinteraksi adalah bahagian paling penting dalam menciptakan rasa senang dan bahagia dalam kehidupan. Perlu diketahui bahwa kebahagiaan itu ada dua macam yaitu kebahagiaan jasmaniah (material) dan kebahagiaan batiniyah (immaterial). Kalau pergaulan baik, maka melahirkan kebahagiaan batin, sebaliknya pergaulan jelek, maka melahirkan kegelisahan batin. Harapan Komunikasi banyak terjadi karena ada harapan. Dengan demikian komunikasi mengawali harapan untuk memperoleh dambaan jadi kenyataan sejalan firman Allah Terjemahnya : Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain. Dari keempat substansi (hakikat) komunikasi di atas, maka dapat ditarik satu kesimpulan bahwa inti komunikasi adalah penyampaian ide atau pesan dari pihak pertama ke pihak kedua, artinya siapa yang memulai berarti dia pihak pertama dan siapa yang menerima (lawan berbicara, berbuat) berarti dia pihak kedua. Unsur-unsur komunikasi Menurut website thoughtco dot com, ada 5 unsur komunikasi utama di dalam setiap proses komunikasi yang terjadi. Tidak hanya itu, ada juga faktor-faktor lain yang ikut masuk ke dalam proses komunikasi tersebut. Langsung saja yuk kita simak penjelasannya berikut ini.

 1. Pengirim (The Sender). Sebuah proses komunikasi tidak akan pernah bisa dimulai, jika proses komunikasi tersebut tidak memiliki kehadiran sang pengirim atau the sender. Ibaratnya, “tidak akan ada asap, bila tidak ada api”, maka pengirim pesan atau informasi adalah api dalam kiasan ini. Pengirim atau the sender juga disebut sebagai komunikator atau narasumber. Dalam hal ini, seorang pengirim pasti memiliki beberapa jenis informasi yang ingin disampaikan kepada orang lain. Misalnya, suatu perintah, pertanyaan, ide (gagasan), pendapat, atau pernyataan. 

2. Penerima (The Receiver). Di awal artikel ini kami sudah menyampaikan sedikit bahwa proses komunikasi hanya bisa dilakukan jika ada dua orang atau lebih. Nah, jumlah minimal atau dua orang tersebut diisi oleh seorang pengirim dan seorang penerima. Dengan kata lain, jika ada seorang pengirim, maka harus ada seorang penerima.

3. Pesan atau Informasi. “Ada gula, ada semut” sama halnya dengan “Ada pesan, maka ada komunikasi”. Proses komunikasi tidak akan berjalan tanpa unsur komunikasi ini yaitu, pesan atau informasi. Karena ada pesan dan informasi lah yang membuat sang pengirim ingin menyampaikan pesan ini kepada penerima. Lalu, apa sih yang dimaksud dengan pesan? Pesan atau informasi adalah konten yang ingin disampaikan oleh pengirim kepada penerima. Pesan atau informasi yang disampaikan dapat diiringi dengan bahasa tubuh (body language) dan nada suara yang tepat. Ketika tiga unsur komunikasi tersebut digabungkan, maka akan menjadi: pengirim, penerima, dan pesan (informasi).

 4. Media atau Sarana Komunikasi. Sayangnya, proses komunikasi bukan hanya memerlukan pengirim, penerima dan pesan saja. Namun, proses komunikasi juga memerlukan unsur komunikasi lainnya yaitu, media atau sarana komunikasi. Fungsi media atau sarana komunikasi adalah sebagai saluran atau sarana yang bisa kita gunakan dalam mengirimkan pesan atau informasi kepada penerima. Bagaimana contohnya? Ketika saya ingin melakukan presentasi bisnis kepada para klien, saya menyampaikannya dengan menggunakan laptop, projector dan slide. Selain itu, saat saya ingin mengirim chat kepada rekan kerja, maka saya bisa menggunakan handphone untuk mengirim sms kepada dirinya.

5. Umpan Balik (Feedback). Proses komunikasi dapat mencapai titik akhirnya ketika pesan telah berhasil dikirim, diterima, dan dipahami oleh sang penerima pesan. Eits, tidak sampai disitu saja. Sang penerima pun telah merespon pesan atau informasi tersebut dengan kalimat yang menunjukkan bahwa dirinya memahami pesan atau informasi yang disampaikan. Balasan dari penerima pesan nantinya disebut sebagai umpan balik atau feedback. Nah, feedback atau umpan balik ini bisa disampaikan secara tertulis atau verbal. Selain itu, ini juga dapat disampaikan melalui tindakan secara langsung maupun tidak langsung. 

Sumber: https://www.duniapelajar.com/2010/06/04/hakikat-komunikasi-antar-budaya/https://www.studilmu.com/blogs/details/apa-saja-unsur-unsur-komunikasi-yang-perlu-kita-ketahui

 

Materi 6

Budaya dan kontekstualisasi Sub Budaya

istilah budaya adalah label yang diberikan para antropolog kepada adat kebiasaan yang terstruktur dan asumsi yang mendasari wawasan dunia yang mengatur kehidupan orang. Budaya (termasuk wawasan dunia) adalah cara hidup orang, rancangan mereka untuk kehidupan, cara mereka mengatasi lingkungan biologis, fisik dan sosial. Budaya memiliki asumsi-asumsi yang dipelajari, memiliki pola (wawasan dunia), konsep dan perilaku, ditambah hasil berupa artifak (budaya secara materi).

 

Sumber: 

https://perspektif.co/Budaya,_Pandangan_Dunia_dan_Kontekstualisasi

 

Materi 7

Pengertian budaya, budaya sebagai tradisi atau adat istiadat. Ada juga yang mengatakan budaya sebagai interaksi sosial antara individu dan individu yang lain. Sub budaya, budaya yang ada di dalam suatu masyarakat/ pembagian budaya yg di bagi menjadi beberapa yang lebih kecil. Tumbuh dr adanya kelompok yang ada di dalam masyarakat. Sub budaya bisa tumbuh dari adanya kelompok-kelompok di dalam suatu masyarakat. Perbedaan kelompok tersebut berdasarkan karakteristik social, ekonomi dan demografi. Demografi akan menggambarkan karakteristik suatu penduduk. Di dalam varibel demografi tersebut, kita bisa mendapatkan sub budaya yang berbeda, yaitu suku sunda, batak, padang. Cabang budaya suatu masyarakat bisa ditunjukkan oleh kelas social yang ada dalam masyarakat. Kelas social menunjukkan adanya kelompok-kelompok yang secara umum mempunyai perbedaan dalam hal pendapatan, gaya hidup dan kecenderungan konsumsi. Kelas Sosial dapat ditentukan dari : 

a. Keluarga, ini sangat berpengaruh terhadap budaya seseorang, diamana kebanyakan orang akan terbawa atau mengikuti budaya dari keturunan 

b. Pekerjaan, mempengaruhi gaya hidup dan merupakan basis penting untuk menyampaikan prestise, kehormatan dan respect 

c. Pemilikan, simbol keanggotaan kelas, tidak hanya jumlah pemilikan, tetapi sifat pilihan yang dibuat. Keputusan pemilikan yang mencerminkan kelas social suatu keluarga adalah pilihan dimana untuk tinggal.

 d. Orientasi Nilai. Nilai kepercayaan bersama mengenai bagaimana orang harus berperilaku- menunjukkan kelas social dimana seseorang termasuk di dalamnya.

 

 Kontekstualisasi : Usaha menempatkan sesuatu dalam konteksnya, sehingga tidak asing lagi, tetapi terjalin dan menyatu dengan keseluruhan. Faktor yang menimbulkan kontekstualisasi

 a. Dominasi Budaya

 b. Teologi tidak relevan, artinya satu pemikiran orang dengan pemikiran lainnya tidak selaras.

 c. Gerakan nasionalisasi

 

Definisi budaya sendiri dapat diartikan sebagai sesuatu yang berkaitan dengan budi, akal manusia, kebiasaan, tingkah laku, dan adat istiadat. Budaya tumbuh dan berkembang di lingkungan masyarakat daerah, serta terus diwariskan secara turun temurun dari satu generasi ke generasi berikutnya. Fungsi-fungsi budaya

 a. Menjadi representasi suatu daerah atau wilayah tertentu. 

b. Sebagai pedoman hubungan manusia atau kelompok. 

c. Memenuhi kebutuhan masyarakat sekitar. 

d. Sebagai media berkomunikasi dengan individu atau kelompok lain.

 e. Mendorong terjadinya perubahan masyarakat. 

f. Menjadi identitas bangsa secara nasional. 

Unsur- unsur budaya

a. Bahasa, media bagi seseorang untuk dapat berkomunikasi secara lisan atau verbal. 

b. Sistem pengetahuan, pengetahuan tentang kondisi alam sekelilingnya dan sifat-sifat peralatan yang digunakannya.

 c. Sistem teknologi dan peralatan, cara seorang dalam mengelola dan mengumpulkan bahan-bahan mentah hingga menjadi bahan pakai.

 d. Kesenian, hasil karya manusia yang mengandung sisi estetika dan keindahan.

 e. Sistem mata pencaharian dan ekonomi, yakni segala usaha atau upaya manusia untuk medapatkan barang atau jasa yang dibutuhkan. 

f. Religi, sistem yang terpadu antara keyakinan dan praktek keagamaan yang berhubungan dengan hal-hal yang suci.

 g. Sistem kekerabatan dan organisasi kemasyarakatan, sekelompok masyarakat yang anggotanya memiliki kesamaan satu sama lain dalam suatu sistem kekerabatan tertentu. Sub budaya adalah pola pola kultural yang menonjol, dan merupakan bagian atau segmen dari populasi masyarakat yang lebih luas dan lebih kompleks (Ristiyanti dalam macionis,2004) Makna dari teknologi kontekstualisasi yakni teologi kontekstualisasi dengan sungguh-sungguh sangat memperhatikan konteks sejarah dan budaya dimana seorang hidup dan berkarya. Teologi kontekstualisasi harus mampu menafsir dan membangun. 

 

Materi 9

Komunikasi Budaya Tinggi dan Rendah 

Hall mengelompokkan budaya sebagai konteks tinggi dan konteks rendah, tergantung dari dari arti apa yang datang dari ruang lingkupnya dibandingkan dengan arti dari perkataan yang diucapkan (Samovar, Porter and McDaniel, 2010, p.256).

Komunikasi konteks tinggi merupakan komunikasi di mana sebagian besar informasi diketahui orang tersebut, dan hanya sedikit yang dibagikan sebagai bagian dari pesan (Samovar, Porter and McDaniel, 2010, p.257). Dengan kata lain, arti dari informasi yang dipertukarkan selama interaksi tidak harus dikomunikasikan dengan kata-kata. Dalam budaya konteks tinggi, komunikasi difokuskan lebih kepada bagaimana pesan tersebut disampaikan daripada apa yang dikatakan serta waspada terhadap isyarat nonverbal.

Dalam budaya konteks tinggi, komunikasi yang dilakukan cenderung kurang terbuka, mereka menganggap konflik berbahaya pada semua jenis komunikasi (Samovar, Porter and McDaniel, 2010, p.257). Bagi masyarakat yang menganut budaya ini, konflik dipandang harus dihadapi dengan hati-hati. Beberapa negara yang tergolong menganut budaya ini adalah Amerika Indian, Amerika Latin, Jepang, China, Afrika-Amerika, Korea, termasuk Indonesia (Samovar, Porter andMcDaniel, 2010, p.258).

Sedangkan komunikasi konteks rendah merupakan komunikasi yang mana jumlah informasi lebih besar dari yang disampaikan. Atau, dalam komunikasi konteks rendah, pesan verbal mengandung banyak informasi dan hanya sedikit yang tertanam dalam konteks atau peserta (Samovar & Porter, 2010, p.257).

Contoh masyarakat konteks rendah adalah masyarakat Amerika yang lebih bergantung pada perkataan yang diucapkan dibanding perilaku nonverbal untuk menyatakan pesan. Beberapa negara yang tergolong menganut budaya konteks rendah adalah Jerman Swiss, Skandinavia dan Amerika Utara (Samovar, Porter andMcDaniel, 2010, p.258).

Sumber:

Samovar, L.A., Porter, R.E & McDaniel E.R. (2010). Komunikasi Lintas Budaya (Communication Between Cultures) (Indri Margaretha Sidabalok, Trans.). Jakarta: Penerbit Salemba Humanika

 

Materi 11

Teori interaksi simbolik, Proses, Makna & Simbol dalam Interaksi

 

Teori interaksi simbolik adalah teori yang dibangun sebagai respon terhadap teori-teori psikologi aliran behaviorisme, behaviorisme, etnologi, serta struktural-fungsionalis. Teori ini sejatinya dikembangkan dalam bidang psikologi sosial dan sosiologi dan memiliki seperangkat premis tentang bagaimana seorang diri individu (self) dan masyarakat (society) didefinisikan melalui interaksi dengan orang lain dimana komunikasi dan partisipasi memegang peranan yang sangat penting.

Dalam tradisi pendekatan dalam penelitian ilmu komunikasi, teori interaksi simbolik berakar pada semiotikadan fenomenologi. Sehingga dapat dikatakan bahwa interaksionisme simbolik merupakan sebuah teori yang paling berpengaruh dalam sejarah bidang studi komunikasi.

 

Prinsip Utama dalam Teori Interaksi Simbolik

Menurut Herbert Blumer, teori interaksi simbolis menitikberatkan pada tiga prinsip utama komunikasi yaitu meaning, language, dan thought.

·      Meaning

Berdasarkan teori interaksi simbolis, meaning atau makna tidak inheren ke dalam obyek namun berkembang melalui proses interaksi sosial antar manusia karena itu makna berada dalam konteks hubungan baik keluarga maupun masyarakat. Makna dibentuk dan dimodifikasi melalui proses interpretatif yang dilakukan oleh manusia.

·      Language

Sebagai manusia, kita memiliki kemampuan untuk menamakan sesuatu. Bahasa merupakan sumber makna yang berkembang secara luas melalui interaksi sosial antara satu dengan yang lainnya dan bahasa disebut juga sebagai alat atau instrumen. Terkait dengan bahasa, Mead menyatakan bahwa dalam kehidupan sosial dan komunikasi antar manusia hanya mungkin dapat terjadi jika kita memahami dan menggunakan sebuah bahasa yang sama.

·      Thought

Thought atau pemikiran berimplikasi pada interpretasi yang kita berikan terhadap simbol. Dasar dari pemikiran adalah bahasa yaitu suatu proses mental mengkonversi makna, nama, dan simbol. Pemikiran termasuk imaginasi yang memiliki kekuatan untuk menyediakan gagasan walaupun tentang sesuatu yang tidak diketahui berdasarkan pengetahuan yang diketahui. Misalnya adalah berpikir.

 

Premis Utama dalam Teori Interaksi Simbolik

Menurut Herbert Blumer, teori interaksi simbolik didasarkan atas tiga proposisi atau tiga premis utama, yaitu :

A. Tindakan manusia terhadap suatu obyek didasarkan atas makna yang mereka gambarkan terhadapnya

Termasuk didalamnya adalah segala sesuatu yang manusia perhatikan dalam dunianya, yaitu berbagai obyek fisik, tindakan, serta konsep. Pada dasarnya setiap individu memberikan sikap terhadap benda atau hal lainnya berdasarkan makna pribadi yang individu telah berikan kepadanya.

B. Makna tentang sesuatu terbentuk dari interaksi dengan individu lainnya dan masyarakat

Premis ini menjelaskan makna sebagai sesuatu yang berkembang dari interaksi sosial yang dilakukan oleh individu dengan individu lainnya. Menurut Blumer, manusia berinteraksi melalui interpretasi atau mendefinisikan tindakan masing-masing individu. Respon yang diberikan tidaklah dibuat secara langsung melalui tindakan melainkan berdasarkan atas makna yang dilekatkan terhadap tindakan. Karenanya interaksi manusia dimediasi dengan menggunakan simbol dan signifikasi, interpretasi makna dari tindakan manusia lainnya.

C. Makna secara berkesinambungan diciptakan dan diciptakan ulang melalui proses interpretasi selama interaksi dengan yang lain

 

Konsep Kunci Interaksi Simbolik

Dalam bukunya Mind, Self, and Society (1934), George Herbert Mead menggambarkan bagaimana pikiran individu dan diri individu berkembang melalui proses sosial. Mead menganalisa pengalaman dari sudut pandang komunikasi sebagai esensi dari tatanan sosial. Bagi Mead, proses sosial adalah yang utama dalam struktur dan proses pengalaman individu. Berdasarkan judul bukunya, maka dalam interaksionisme simbolik terdapat tiga konsep kunci utama yaitu mind, self, dan society.

1. Mind

Menurut Mead, mind berkembang dalam proses sosial komunikasi dan tidak dapat dipahami sebagai proses yang terpisah. Proses ini melibatkan dua fase yaitu conversation of gestures (percakapan gerakan) dan language (bahasa). Keduanya mengandaikan sebuah konteks sosial dalam dua atau lebih individu yang berinteraksi antara satu dengan yang lainnya.

Mind hanya tampil manakala simbol-simbol yang signifikan digunakan dalam komunikasi. Mindadalah proses yang dimanifestasikan ketika individu berinteraksi dengan dirinya sendiri dengan menggunakan simbol-simbol signifikan yaitu simbol atau gestur dengan interpretasi atau makna. Mind juga merupakan komponen individu yang menginteruspsi tanggapan terhadap stimuli atau rangsangan. Adalah mind yang meramal masa depan dengan cara mengeksplorasi kemungkinan tindakan keluaran sebelum dilanjutkan dengan tindakan.

2. Self

Self diartikan melalui interaksi dengan orang lain. Self merujuk pada kepribadian reflektif dari individu. Self adalah sebuah entitas manusia ketika ia berpikir mengenai siapa dirinya. Untuk memahami konsep tentang diri, adalah penting untuk memahami perkembangan diri yang hanya mungkin terjadi melalui pengambilan peran. Agar kita bisa melihat diri kita maka kita harus dapat mengambil peran sebagai orang lain untuk dapat merefleksikan diri kita. Pengambilan peran ini merupakan bagian yang sangat penting dalam pengembangan diri. Gambaran mental inilah yang oleh Charles H. Cooley dinamakan dengan looking glass-self dan dibentuk secara sosial.

Menurut Mead, self dikembangkan melalui beberapa tahapan, yaitu :

1.    Tahap persiapan – imitasi yang tidak berarti

2.    Tahap bermain – terjadi bermain peran namun bukan merupakan konsep yang menyatu dalam perkembangan diri

3.    Tahap permainan – merupakan tahap perkembangan diri

Self adalah fungsi dari bahasa. Seorang individu harus menjadi anggota suatu komunitas sebelum kesadaran diri membentuknya. Self merupakan proses yang berlangsung terus menerus yang mengkombinasikan I” dan Me”. Oleh karena itu, dalam self terdiri dari dua bagian, yaitu “I” dan “Me”.

·      I – diri yang aktif, merupakan kecenderungan impulsif dari diri individu, bersifat spontan, dan juga merupakan aspek dari eksistensi manusia yang tidak terorganisasi.

·      Me – merupakan diri yang menjadi objek renungan kita atau merupaka gambaran diri yang dilihat melalui cermin diri dari reaksi yang diberikan oleh orang lain.

Menurut Mead, suatu tindakan diawali dalam bentuk “I” dan diakhiri dalam bentuk “Me”“I” memberikan tenaga penggerak sementara “Me” memberikan arahan. “I” bersifat kreatif dan spontan yang tersedia bagi perubahan dalam masyarakat. Karenanya dalam konsep self adalah sesuatu yang kuat dan komprehensif memahami bagaimana fungsi manusia dalam masyarakat dan fungsi masyarakat itu sendiri. Konsep tersebut juga sekaligus menunjukkan hubungan antara individu dan masyarakat.

Menurut Bernard M. Meltzer terdapat 3 (tiga) implikasi dari kepribadian (selfhood), yaitu :

1.    Kepemilikan diri membuat individu dari sebuah masyarakat dalam bentuk miniatur, manusia dapat melibatkan diri dalam interaksi, mereka dapat memandang diri mereka sendiri dalam cara pandang yang baru.

2.    Kemampuan untuk bertindak terhadap diri sendiri membuat kemungkinan sebuah pengalaman batin yang tidak perlu mencapai ekspresi secara terang-terangan, manusia dapat memiliki kehidupan mental.

3.    Seorang individu dengan dirinya dapat mengarahkan dan mengendalikan perilakunya.

 

3. Society

Society atau masyarakat dibentuk melalui interaksi antar individu yang terkoordinasi. Menurut Mead, interaksi yang tejadi pada manusia menempati tingkatan tertinggi bila dibandingkan makhluk lainnya. Hal ini dikarenakan digunakannya berbagai macam simbol signifikan yaitu bahasa. Meskipun terkadang manusia memberikan respon atau tanggapan secara otomatis dan tanpa berpikir panjang terhadap gestur manusia lainnya, interaksi manusia ditransformasikan dengan kemampuannya untuk membentuk dan menginterpretasikan secara langsung dengan menggunakan sistem simbol konvensional.

Komunikasi manusia memiliki makna dalam gerakan simbolik dan tidak meminta tanggapan langsung. Manusia harus menafsirkan setiap gerakan dan menentukan makna mereka. Dikarenakan komunikasi manusia melibatkan interpretasi dan penugasan makna maka hal tersebut dapat terjadi ketika ada consensus dalam makna. Makna simbol hendaknya dibagikan dengan manusia lainnya.

Makna bersama selalu terjadi melalui pengambilan peran. Untuk menyelesaikan suatu tindakan, pelaku harus menempatkan dirinya pada posisi orang lain. Perilaku dipandang sebagai sosial tidak hanya ketika memberikan respon terhadap orang lain melainkan juga ketika telah tergabung di dalam perilaku orang lain. Manusia menanggapi diri mereka sebagaimana orang lain menanggapi mereka dan dengan demikian mereka berbagi perilaku orang lain secara imaginer.

Sumber: 

https://pakarkomunikasi.com/teori-interaksi-simbolik

 

 

Komentar