MEDIA DAN RUANG PUBLIK
Nama: Mukhammad Sulthoni Firdaus
Kelas: E3
Nim: B05219030
MEDIA DAN RUANG PUBLIK
Pergulatan media massa dalam menguasai ruang public berasal dari perkembangan pemanfaatan media oleh masyarakat itu sendiri. Masalah kebutuhan akan informasi masyarakat mendorong tumbuhnya jenis dan jumlah media massa yang masuk ke ruang publik.
Ruang publik atau public sphere yang dikemukan oleh Habermas adalah seluruh realitas kehidupan sosial yang memungkinkan masyarakat untuk bertukar pikiran, berdiskusi serta membangun opini publik secara bersama.
Dalam era keberlimpahan informasi ditandai dengan banyaknya jenis-jenis media massa dan jumlah media massa yang berisikan informasi masuk ke ruang publik. Semakin luasnya ruang public, berarti tumbuhnya wahana masyarakat untuk mertukar opini, berdiskusi dan berkomunikasi dengan masyarakat lainnya. Media massa telah mampu menjembatani antar anggota masyarakat, anggota masyarakat dan Negara/penguasa, pemilik modal dengan masyarakat, alih-alih institusi media dengan masyarakat dan atau penguasa.
Peran ideal media sebagai salah satu pilar menjaga bangsa bertarung dengan kepentingan ekonomi untuk bias tetap bertahan, berkembang dan menguasai lini ruang public semakin luas. Proses seleksi alam yang panjang dalam masyarakat telah menyisakan beberapa institusi media yang menguasai sebagian besar ruang public.
Penguasaan ruang public setidaknya 3 pilar yang menguasaiinya, pertama; pengusaan ruang public yang sarat dengan modal yaitu penguasaan ruang iklan oleh pemilik-pemilik modal seiring dengan pertumbuhan industri dan perdagangan dalam Negara dan lintas Negara. Semakin terbukannya perdagangan lintas Negara semakin tidak adanya produk yang hanya diorientasikan pada area local, khususnya pada produk tekhnologi tinggi. Kedua, Lamannya pemilik media massa mengusai ruang public semakin bembesarnya modal yang dimiliki media massa dalam mengusai berbagai jenis media massa. Ketiga, demokratisasi politik di Indonesia membawa perubahan besar pada pertarungan antar partai politik dan kandidat partai dalam mengusai ruang public baik sebagai wahana informative, mendiskusikan banyak hal, menciptakan opini bahkan menciptakan pembenaran- pembenaran. Keempat : munculnya media baru berbasis web telah telah mengeser berbagai pola penggunaan media oleh masyarakat, baik untuk iklan, menyebarkan opini, komunikasi antar personal bermedia (soaial media).
Perkembangan tekhnologi komunikasi begitu pesatnya setelah pemanfaatan komputer atau platform computer digunakan pada alat komunikasi berbasis web. Komputer dengan jaringan network yang dahulu bersifat static, sekarang sudah pada mobil mini computer dengan jaringan berbasis web dalam sebuah World Wide Web. Ada pergeseran pemanfatan computer yang dulunya untuk computasi, sekarang sebagai media entertaint dan media komunikasi “ from computation to entertaint and communications”.
Pemanfatan media internet yang dulunya statik sekarang berubah menjadi mobile, perangkat komunikasi Hand Phone (HP) yang era 90-an hanya sebagai wahana komunikasi, berkembang dengan terintegrasinya SMS di HP, sehingga pager tidak berkembang lagi di Indonesia. Semakin terintegrasinya (divergensi) peralatan yang ada pada HP. Radio, TV, camera, internet, scanner, msoffice, dsb telah membawa perubahan yang luar biasa dari dua dasawarsa ini[1].
Istilah ruang publik diperkenalkan oleh Jurgen Habermas. Ruang publik adalah tempat terjadinya pertukaran dan pergulatan berbagai gagasan kultural, politik ekonomi atau sosial. Dalam bahasa Habermas, ruang publik merupakan zona netral tempat dominasi pemerintah, partai politik, kelompok bisnis atau kelompok kepentingan lainnya yang seharusnya dihindarkan.
Dalam sejarahnya, ruang publik itu dulu berupa tempat pertemuan, diskusi diberbagai tempat tesebut, masing-masing anggota dapat saling bertukar ide dan gagasan tanpa ketakutan adanya tekanan penguasa. Ruang publik itu sangat penting dalam menyemai demokrasi. Dalam konteks modern, salah satu medium ruang publik yang terpenting adalah media.
[1]Cheney and Ross T. Hightower,The Impact of Group Size and Social Presence on Small-Group, Small Group Research 2006; 37; 631,
Komentar
Posting Komentar